Luka Untukku Karena Sandiwaramu

             Luka Untukku Karena Sandiwaramu


Ku pikir kau yang terbaik untukku
Ku pikir kau yang selalu sayang aku
Kau bilang kau selalu setia padaku
Kau bilang ku terindah di hidupmu
Tapi ternyata kau dustai aku, kau lukai ku
Yaah itu lagu yang kini selalu aku dendangkan bersama sebuah kekecewaan. Aku yang berfikir dia yang terbaik untukku aku juga yang selalu memujanya. Tapi pada kenyataan yang sebenarnya hanyalah seonggok luka yang dia beri.
Hmm, “Dwi Bagus” dialah yang ku anggap terbaik dia yang ku puja dalam setiap nafasku. Namun, pada dasarnya dialah luka dalam kehidupanku. Semua berawal saat aku Erinka Zahrana masuk SMK, aku mempunyai teman yang bernama Pratiwi. Dialah yang mengenalkan ku kepada Bagus, dan ketauhilah bahwa Bagus itu pacarnya Tiwi. Hubungan mereka selalu diselimuti pertengkaran, karena menurut Bagus Tiwi hanya menjadikan dia sebuah bahan pamer kepada teman-teman atau mungkin lebih jelasnya disebut bahan pelampiasan. Aku pun juga selalu menasehati Tiwi untuk memperhatikan Bagus, agar suatu saat nanti dia tidak menyesal.
Pada awalnya aku dan Bagus hanya teman curhat biasa, sesekali mungkin aku juga gak pernah bales smsnya. karena aku malas dia yang selalu penuhi inbox hpku. Suatu saat kejadian aku sangat dekat dengan Bagus saat kita liburan tahun baru, di situlah aku dan dia sangat dekat dan bahkan setiap saat hp ku hanya dia yang mengisi. Dan yang sangatlah unik aku dan dia mempunyai panggilan khusus yaitu “om dan tante” haha, mungkin hal yang aneh, tapi biarlah aku sih asyik aja. Pada akhirnya aku bertemu dengan dia saat aku dan Tiwi mendapatkan sebuah tugas untuk membuat Video keindahan kota semarang, dimana saat pembuatan video tersebut tiwi didampingi oleh Bagus. Waktu itu hujan sangatlah deras, kami akhirnya berteduh di rumah Alya yah dialah “sahabat ku”. Sahabat saat pertama kali kita bertemu pada MOS.
Di rumah Alya akulah yang melayani Bagus untuk makan,
“hey om, nih loh udah tak ambilkan makan. Tadi katanya belum makan, ayolah makan dulu. Kalo gak berarti gak menghargai aku”. Haha, itulah kataku kepada bagus dengan panggilan om.
“iya bentar”, dia pun menjawab tapi masih sibuk dengan main game nya,
“heh, cepet gak om. Kalo gak kamu bener-bener gak menghargai aku”, aku pun mulai membentaknya, haha. Aku orang yang mungkin akan marah saat suatu hal yang aku lakukan tidak dihargai oleh orang lain. Haha, Tiwi dan kedua sahabatku Alya dan Lia pun hanya menertawakanku. Setelah aku membentaknya akhirnya dia pun menuruti perkataanku. Sesekali saat setelah makan sahabatku sempat membual celotehnya ke aku tentang Angga. Haha yah maklum saat itu aku sedang menyukai Angga. Dia temanku waktu smp.
Waktu pun terus berlalu, hariku yang selalu ditemani oleh bagus dalam sms, dia pernah bilang jangan sampek Tiwi tau kalau aku dan Bagus berhubungan lewat sms. Pastilah Tiwi akan marah, tapi kan Tiwi juga yang mengenalkan ku kepada Bagus. Ketika Suatu saat Bagus pernah bilang ke aku,
“tante, Tiwi bilang katanya aku tuh cocoknya sama kamu ” celotehnya lewat sms.
“what? Aku cocok sama kamu? Gak salah kenapa sih harus banding-bandingin diri sendiri sama orang lain? Aku paling benci itu.” Kataku dengan nada kaget dan sedikit marah, maklum lah aku paling enggak suka dibanding-bandingin kayak gitu.
Semenjak saat aku bertemu Bagus waktu yang lalu memanglah perasaanku sedikit beda dengan dia. Merasa aku seperti jatuh hati padanya. Tapi aku sadar Tiwi menganggapku sebagai kakaknya dan Bagus berarti pacar adikku sendirilah. Aku mencoba membohongi perasaanku dan berusaha untuk mengubur itu dalam-dalam. Seketika pada bulan februari 2014 tepatnya, terjadilah suatu kejadian yang sangat membuat perasaanku bercampur aduk. Yaah, apa yang kalian tahu? Bagus menyatakan perasaannya ke aku melalui pesan singkat, yah aku? Aku seketika tercengang bukan main.
“tente aku boleh jujur enggak?” katanya terhadapku.
“yah, apa om?” jawabku singkat.
“dari pertama aku tau kebiasaanmu yang rajin telaten terhadap pekerjaan rumah, aku kagum, kamu cantik, manis, rajin, solehah, pakai jilbab lagi. Aku jatuh hati sama kamu”.
“what apa? Haha, itu Cuma kagum kan? Haha udahlah jangan bercanda, makasih aja udah memuji akunya.” kataku tercengan sambil tertawa, pikirku “hal yang aneh”.
“enggak tante, bener aku suka sama kamu.” Lanjutnya
“haha, iya dech makasih aja yah om. Tapi kamu kan milik Tiwi, dia temenku sendiri.” Aku pun mengingatkannya.
“hmm, iya sih, tapi Tiwi beda lo sama kamu.” Jawabnya.
“husst udahlah gak usah dibahas” sahutku.
Semenjak perkataan itu kita semakin dekat. Dia juga sempat bilang sama aku, bahwa aku udah diceritain ke ibunya, dan ibunya setuju terhadapku, dan ibunya juga bilang seusai kami lulus dari SMK ini aku akan dilamar oleh Bagus. Entahlah semua itu benar adanya atau tidak hanyalah dia yang tau.
Sempat aku diam-diam bertemu dengan Bagus di Taman dekat rumahku. Itu saat hari sabtu sore, sepulang dia sekolah. Aku yang berbohong terhadap sahabatku, aku mengatakan bahwa sore itu aku pergi bersama Angga, tapi kenyataannya yang aku temui ya Bagus pacar temanku sendiri. Senin setiba di sekolah aku bersemangat bahkan piket kelas aku yang bersihin semua. Haha, temanku menertawakan aku, mereka heran tumben amat aku baik kayak gitu biasanya aja aku galaknya kayak macan.
“heh kak, tumben amat sih rajin banget disapu semua lagi” celoteh trischa terhadapku.
“haha wes toh kamu kih diem o aja, hari ini aku lagi seneng banget, kemaren habis diapelin.” Jawabku dengan riang.
Saat istirahat tiba, aku memulai egoisku, aku juga berhak atas Bagus, aku pun memberanikan diri untuk meminta sebuah kepastian. Karena aku sempat membaca sms Bagus di tab milik Lia yang mengatakan bahwa dia ingin Tiwi berubah.
“heh om. Kamu kih sebenarnya milih siapa? Aku atau Tiwi?, jawab jujur.” Kataku dengan keegoisanku.
“hmm, nanti aku jawab”. Katanya
“hah, tapi kapan aku butuhnya sekarang”. Bentakku.
“huh, aku udah janji”. Jawabnya lagi
“oh iya udah janji bakal milih TiwI ya? Ya udah tak enggak ganggu kamu lagi. LONGLAST YA”. Jawabku.
Tapi setelah itu pesan smsku enggak dibalas sama Bagus. Dan apa yang terjadi setibanya pulang sekolah, aku melihat Bagus menjemput Tiwi di depan sekolah. Dan yang parahnya lagi aku melihat dengan mata kepalaku sendiri Tiwi dibonceng oleh Bagus. Ya Tuhan, hal apalagi ini? musibah apalagi ini? dalam hati aku menangis. Seakan bagaikan diberi sebuah kebahagiaan di tebing yang tinggi lalu seketika itu juga kebahagiaanku dijatuhkan dari atas tebing itu. Hancur berkeping-keping bahkan berserakan dan beterbangan.
Semenjak kejadian sepulang sekolah itu aku mulai menjauh dari Tiwi, bahkan yang biasanya aku duduk di depannya kini aku duduk di bangku ujung dan bersebrangan denganya, karena apa? Saat aku melihat dia bagaikan aku melihat seonggok luka. Padahal aku juga yang salah, kenapa aku enggak bisa menjaga hatiku, kenapa aku juga harus suka dan terlarut dalam kata-katanya Bagus, betapa bodohnya aku.
Semakin Lama Tiwi menyadari kelakuan dan sifatku yang aneh terhadapnya, hari rabu sepulang sekolah dia memintaku untuk bertemu dan membicarakan masalah itu. Yah. Kata pepatah “sepandai-pandainya kita menyimpan bangkai pasti akan tercium juga”. Lagi dan lagi aku tahu dari pesan singkat dari Tiwi di hp Lia. Tiwi mengatakan bahwa Bagus seperti itu ke aku hanya untuk menguji seberapa besarkah aku sabar. Ya Tuhan derita apalagi? Aku yang menahan emosi tapi akhirnya meluap juga. Aku menarik tangan Tiwi dan aku lempar hapku ke jalanan. Praaakkk! Hancur berkeping-keping seperti perasaanku saat itu. Terjadilah debat yang sangat hebat. Yah aku sekali lagi juga tahu bahwa aku juga salah, tapi Tiwi juga salah. Taukah, dia mengetahui kalau aku hanya dijadikan bahan percobaan. Tapi kenapa Tiwi dan Amel yang mengetahui itu tidak langsung memberi tahu aku?. Ya Tuhan, lagi dan lagi selalu dihantui oleh luka hati.
Aku mengatakan kepada Tiwi, bahwa aku fikir Bagus yang terbaik. Bahkan aku menyesal pernah mengatakan dia yang terbaik. Luka yang 1 tahun lalu hampir kering kini harus menganga kembali. Kenapa? karena dulu aku pernah diputuskan pacarku tepat saat aku berulang tahun. Dan kini Bagus hampir mengulang luka itu, tapi kini tepat saat 1 bulan menuju kebahagiaan yang aku tunggu, aku berharap saat ulang tahun ku nanti aku dapat merasakan kebahagiaan yang sesungguhnya bukan sejuta luka yang ku dapat. Akhirnya terjadilah suatu keputusan, aku dan Tiwi sama-sama lost contact dengan bagus. Aku pun setuju.
Pada akhirnya aku pun masih berhubungan dengan Bagus, padahal ku tahu dia yang telah membuka kembali luka di hatiku, tapi entah kenapa aku tak bisa menjauh darinya. Karena semenjak masalah itu aku sering sakit dan berat badanku yang terus menurun. Sampai saat aku harus tersiksa dengan luka dan penyakit. Dia meminta maaf terhadapku dan mengatakan bahwa dia akan membuatku bahagia kembali. Yah, meski tak sesempurna dulu. Dan kini setiap waktu aku kembali ditemani olehnya. Berlalu, Suatu ketika dia mengatakan kepadaku.
“kamu gak nipu dan PHP aku kan?.” tanyanya terhadapku.
“wa?, enggak lah cukup aku yang terluka, jangan orang lain jadi aku gak mungkin balas dendam sama kamu”. jawabku dan meyakinkan dia.
“oke buktikan kalo kamu enggak kayak gitu, berubah dulu.”
“oke, tak buktiin kalau aku berubah”. Dengan derasnya air mata yang mengalir di pipiku aku mengatakan itu ke Bagus.
Belum kering lukaku, aku yang terkadang teringat masalah itu kembali sakit hati dan hampir kambuh penyakit ku. Sesungguhnya aneh perkataannya, dan seharusnya bilang kayak gitu aku, karena aku yang sudah disakiti. Dan aku takut akan dia mengulangi kesalahannya dulu. Tapi aku terus meyakinkan diri dan berfikir positif. Terlintas di fikiranku untuk memintanya datang ke rumahku tepat saat aku nanti berulang tahun. Tapi, aku ragu aku takut kejadiannya sama seperti dulu apa yang dilakukan mantanku terhadapku. Memutuskanku tepat saat hari bahagiaku. Dengan berat hati aku mengatakan itu kepadanya.
“besok tanggal 19 datang ke rumah ya?.” Pintaku padanya.
“iya”. Jawabnya singkat yang membuatku sedikit kecewa.
Setelah itu pun pesan singkat kita berakhir. Ternyata ketakutan ku akan dia meninggalkan ku benar. Dan ketauhilah, 01 03 2014 pukul 05:53 dia tanpa alasan pasti menelfonku, tapi sayang tak terjawab olehku. Balik disms pun tanpa ada jawaban. Aku mulai menjalani kehidupan ini sendiri, dan tergopoh-gopoh dengan luka itu. Semenjak hari itu, dia tak lagi memberi kabar terhadapku. Aku pun mulai berfikir untuk menjalani kehidupan ini sendiri, dan membuka lembaran baru untuk kebahagiaan 19 maret dan kebahagiaan dalam hidupku.
Meski terkadang aku berfikir apakah iya? Dia kembali menguji kesabaranku?. Hmm, entahlah hanya tuhan yang tahu tentang semua ini. Dan kini aku pun pergi menjauh dari angan dan bayangan tentangnya. Berusaha mengobati dan membuka lembaran baru lagi di hidupku. Karena jalan hidupku masih panjang dan masa depanku masih terbentang luas.

Comments

Popular Posts